Baik dan buruk merupakan sifat yang selamanya akan menempel pada suatu benda, terlepas apakah benda mati atau benda hidup. Setiap ada pengertian baik ada pula pengertian buruk. Dalam mendefinisikan baik dan buruk setiap orang pasti berbeda-beda. Sebab, sumber penentu baik dan benar adalah Tuhan dan manusia ; yakni Wahyu dan Akal ; agama dan filsafat. Berikut ini adalah beberapa perbedaan tersebut;
1.Ali Bin Abi Thalib (w. 40 H ) kebaikan adalah menjauhkan diri dari larangan, mencari sesuatu yang halal dan memberikan kelonggaran kepada keluarga.
2. Ibnu Maskawaih (941-1030) kebaikan adalah yang dihasilkan oleh manusia melalui kehendak yang tertinggi. Keburukan adalah sesuatu yang memperlambat demi mencapai kebaikan.
3. Muhammad Abduh (1849-1905) kebaikan adalah apa yang lebih kekal faedahnya sekalipun menimbulkan rasa sakit dalam melakukannya.
4. Toshihiko Izutsu (1914-1993) dalam Al-qur’an tidak ada konsep baik-buruk abstrak yang dikembangkan sepenuhnya. Rumusan bahasa moral level sekunder ini merupakan karya dari para ahli hukum pada masa pasca-Quranik. Kosaka Al-qur’an diterjemahkan dengan “baik” dan “buruk”, tetapi banyak di antaranya merupakan kata-kata deskriptif atau indikatif. Jika kita dibenarkan menilai kata-kata itu sebagai istilah “nilai” karena dalam pemakaian aktual, kata-kata itu membawa maksud untuk memberikan penilaian. Pada waktu yang sama, dalam Al-qur’an terdapat sejumlah kata “baik dan “buruk” yang fungsi utamanya evaluative bukan deskriptif.
5. Louis Ma’luf baik, lawan buruk adalah menggapai kesempurnaan sesuatu, Buruk lawan baik adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang tercela dan dosa.
6. Poerwadarminta (1904-1958) baik ; elok, teratur, patut, berguna, manjur, tidak jahat, sembuh pulih, selamat (tak kurang sesuatu apapun).
Meskipun secara redaksional berbeda-beda secara subtantif definisi baik dan buruk mengandung keberagaman. Baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur. Bermartabat menyenangkan, dan disukai manusia. Adapun buruk adalah sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang rendah. Hina, menyusahkan, dan dibenci oleh manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan antroposentris, yaitu memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dam membahagiaan manusia. Pengertian baik seperti demikian tidaklah salah karena secara fitrah manusia memang menyukai hal-ha yang menyenangkan dan membahagiaan dirinya kesempurnaan, keharuan, kesuaian, dan kebenaran.
B. Penentuan Baik dan Buruk
Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia berkembang pula patokan yang digunakan oleh orang dalam menentukan baik dan buruk keadaan ini menurut poedjawijatna berhubungan rapat dengan pandangan fisafat tentang manusia (antropologia metafisika) dan ini bergantug pula dari metafisika pada umumnya. Poedjawijatna lebih lanjut menyebutkan lebih lanjut sejumlah pandangan filsafat yang digunakan dalam menilai baik dan buruk. Yaitu hedonisme, ulitilitarianisme, vitalisme, sosialisme, religiosisme, humanisme. Sementara itu Asmaran as menyebutkan sebanyk empat aliran filsafatyaitu adat kebiasaan hedonism, intuisi, dan evolusi. Pembagian yang dikemukakan oleh Asmaran as tampaknya sejalan dengan pembagian aliran filsafat yang dikemukakan oleh Ahman amin. Ahmad amin membagi aliran filsafat yang mempengaruhi penentuan baik dan buruk itu menjadi empat yaitu; adat istiadat, hedonisme, utilitarianisme, dan evolusi.
Baik buruk menurut adat istiadat
1. Menurut aliran ini baik atau buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan adat istiadat yang dioegang oleh masyarakat orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dipandang baik, dan orang yang menentang dan tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk serta kalau perlu di hukum.
2. Baik buruk menurut hedoisme
Adalah aliran filsafat yang terhitung tua, karena berakar pada pemikiran filsafat yunani, khusunya pemikiran filsafat Epiculus (341-270) yang selanjutnya dikembangkan oleh Cyrenics sebagaiman telah diuraikan diatas.
Menurut paham ini banyak yang disebut perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan keputusan nafsu biologis. Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua mengandung kelezatan namun ada pula yang mendatangkan kepedihan, dan apa bila disuruh untuk memilih manakahperbuatan yang harus dilakukan, maka yang akan dipilih yakni perbuatan yang mendatangkan kelezatan.
3. Baik buruk menurut paham intuisme
Intuisme merupakan kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik dan buruk dengan sekilas tanpa melihat buah atau akibatnya. Kekuatan batin atau disebut juga sebagai adalah kata hati merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada diri manusia. Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusia mempunyai kekuatan instinc batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang. Kekuatan batin ini terkadang berbeda refleksinya, karena pengaruh masa dan lingkungan akan tetapi pada dasarnya ia tetap sama dan berakar pada tubuh manusia.
Baik buruk menurut paham utilitarianisme
Secara harfiah utilis berate berguna.
4. Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna. Jika ukuran ini berlaku bagi perorangan, disebut individual, dan jika berlalu bagi masyarakat dan negara disebut sosial. Paham penentuan baik dan buruk berdasarkan nilai guna ini mendapatkan perhatian dimasa sekarang. Dalam adab sekarang ini kemajuan dibidang tehnk cukup meningkat, dan kegunan hanya dari sudut pandang materialistic. Orang tua yang sudah jompo misalnya semakin kurang dihargai karena secara material tidak ada lagi gunanya. Padahal kedua orang tua sangat berguna untuk dimintakan nasehat, do’a serta kerelaannya.
5. Baik buruk menurut paham vitalisme
Menurut paham ini yang baik ialah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukan orang lain yang lemah dianggap sangat baik. Paham ini lebih lanjut cenderung kepada sikap binatang, dan berlaku hukum siapa yang kuat dan siapa yang menang itulah yang baik.
Paham vitalisme ini pernah dipraktekan pada zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah dan bodoh. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki penguasa pada saat itu mampu mengembangkan pola hidop feodalisme, kolonialisme, dictator dan tiranik. Kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status sosial yang dihormati. Ucapan dan perbuatan dan ketetapan yang dikeluarkannya menjadi pegangan bagi masyarakat.
6. Baik buruk menurut paham religionisme
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam paham ini keyakinan teologis yakni, keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan penting karena tidak mungkin orang mau berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan jika yang bersangkutan tidak beriman kepada-Nya. Menurut Poedjawijatna aliran dianggap paling baik daam praktik. Namun, terdapat pula keberatan terhadap aliran ini, yaitu ketidak umuman dari ukuran baik dan buruk yang digunakannya.
C. Ukuran Baik dan Buruk
Setiap gerak dan langkah untuk mencari nilai sudah tentu manusia memiliki suatu standar untuk mengukur sesuatu yang baik maupun yang buruk kendati ukuran tersebut berlainan antara satu dengan yang lainnya. Baik buruknya kadang-kadang diukur dengan adat.
Ukuran adat tentu saja berbeda-beda disetiap tempat sebab adat istiadat, sangat dipengaruhi oleh factor geografis dan lingkungan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Atas dasar itu, tidak heran jika muncul berbagai aliran etika yang mempunyai standar masing-masing dalam menentukan baik maupun buruk.
Berikut ini dikemukakan beberapa diantaranya;
1. Aliran naturalisme
Adalah aliran filsafat yang menerima “natura” sebagai keseluruhan realitas. Istilah “natura” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, dari dunia fisaika yang dapat dilihat manusia sampai sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains dan alam dengan adanya kekuatan atau ada dua (wujud) diatas diluar alam. Menurut aliran Narutralisme ukuran baik dan buruk, adalah apakah sesuatu itu sesuai dengan fitrah (naluri) manusia atau tidak, baik fitrah lahir maupun batin. Apabila sesuai dengan fitrah dikatakan baik, sedangkan apabila tidak sesuai dipandang buruk. Aliran menganggap bahwa kebahagiaan yang menjadi tujuan setiap umat manusia didapat dengan jalan memenuhi panggilan nature.
2. Aliran hedonisme
Hadonis berasal dari bahasa yunani hedone yang berati “kesenangan” atau “kenikmatan” dalam filsafat yunani Hedonisme dikemukakan oleh Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 SM) seorang Socrates, socrates bertanya tentang tujuan akhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi kehidupan manusia atau apa yang benar-benar baik untuk manusia tetapi ia tidak memberikan jawaban yang cukup jelas. Atas pertanyaan tersebut Aristippos akhirnya menjawab pertanyaan tersebut “Yang sungguh-sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan”.
3. Idealisme
Aliran ini sangat penting bagi perkembangan sejarah fikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam ajaran murni dari plato yang menyatakan bahwa alam, cita-cita adalah kenyataan yang sebenarnya adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide. Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajaran yang menggambarkan alam ide sebagai suatu tenaga. Yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah paham idealime hilang sama sekali. Pada abad pertengahan, satu-satunya pendapat yang disepakati oleh para ahli adalah dasar idealisme ini. Pada zaman Aufklarung, ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan atau dua-duanya mengakui baha unsur kerohanian lebih pentng dari pada kebendaan.
4. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata yunani Deon yang berati kewajiban oleh karena itu, etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik, menurut aliran ini suatu tindakan dianggap baik buan berdasarkan tujuan ataupun tampak perbuatan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu sendiri. Dengan kata lan, perbuatan tersebut bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan, terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Salah satu tokoh yang terkenal daeri teori ini adalah Immanuel Kant (1734-1804), seorang filsuf jerman abad ke-18.
5. Teologis
Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan burukya perbuatan adalah tersebut diperintah atau dilarang. Segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan adalah baik. Sebaliknya, perbuatan yang dilarang adalah buruk.
D. Sifat Baik dan Buruk
Sifat dan corak baik buruk yang diidasarkan pada pandangan filsafat sebagai mana disebutkan diatas adalah sesuai dengan sifat filsafat itu yakni berubah, relatifnisbi dan tidak universal. Dengan demikian, sika baik dan buruk yang dihasilkan berdasarkan pemikiran filsafat menjadi relative dan nisbi pula, yakni baik dan buruk yang dapat terus berubah sifat baik buruk yang dikemukakan berdasarkan pandangan tersebut sifatnya subjektif, local, dan temporal dan oleh karena nilai sifat baik buruk sifatnya relative.
Untuk itu perlu ada ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada nilai-nilai yang universal. Uraian di atas tersebut sebagian yang menunjukkan keuniversalan, yaitu penentuan baik dan buruk yang didasarkan pada pandangan intuisme sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Namun demikian bagaimanapun intuisi tetap saja tidak semutlak wahyu yang datang dari Allah.
E. Baik dan Buruk menurut Ajaran Islam
Ajaran islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu SWT, Al-Qur’an yang dalam penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Masalah Ahklak dalam ajaran islam, sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar sebagaimana telah diuraikan pada pembagian terdahulu.
Menurut ajaran islam penentuan bik dan buruk harus didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist. Jika kita perhaikan Al-Qur’an dan hadist dapat dijumpai berbagai isttilah yang mengacu kepada baik dan ada juga istilah yang mengacu pada buruk. Diantara istilah yang mengacu pada hal yang baik misalnya Alhasan, taibah, khairha, karumah, mahmudah, azizah, dan albil

